Site icon Denai Cahaya Malam

Sebuah catatan kaleidoskop 2019

Catatan Kaleidoskop 2019 

Menjadi suatu hal yang sulit bagiku, saat aku harus menuliskan tentang kesedihan yang pernah ku alami beberapa bulan ke belakang.

Maka dari itu keinginan untuk menulis kaleidoskop kehidupanku di tahun 2019 selalu saja aku urungkan.

Bukan apa, aku hanya enggan bersedih lagi mengingat kemarin itu begitu berat keadaan yang harus aku jalani. 

Tapi sungguh, aku bersyukur telah melewati jalanan sulit itu, dan kini aku di sini tegak berdiri. Bahagia menyambut tahun baru yang penuh kejutan serta keberkahan. Amin.

Aku memang enggan mengingat kesulitanku kemarin. Akan tetapi, aku sayang terhadap diriku karena telah tegar menghadapi keadaan sulit itu.

Mungkin kamu bertanya, memangnya sesulit apa keadaanku kemarin?

Sulit, saking sulitnya aku sampai tak enak hati meminta bantuan pada orang yang tidak bisa aku andalkan.

Di mana saat terjadi pemutusan kerja di akhir Juni lalu, aku serasa di tampar.

Begitu cepat nasib berubah. Padahal sebelumnya aku Bahagia-bahagia saja bekerja di kantorku kemarin.

Di tambah saat bulan Julinya aku menghadapi pemutusan kerja kedua dari perusahaan freelance tempatku mencari tambahan penghasilan.

Perusahaan freelance tersebut harus tidak beroperasi lagi, entah karena mungkin suatu hal.

Tidak seperti banyak orang yang sepertinya mudah mendapatkan pekerjaan, aku harus berusaha ratusan kali mengirim lamaran, puluhan kali mengikuti interview tanpa hasil hingga akhirnya sekarang dapat bekerja di salah satu perusahaan startup.

Kala itu, uang tabunganku sisa dari THR, pesangon, dan sisa tabungan lebaran hanya tersisa sekitar kurang lebih Rp5.5 jutaan saja. 

Menurut rencana awal, uang itu harus aku hemat untuk pemakaian selama tiga bulan pertama nganggur.

Di mana saat itu aku tidak mampu mengabari orang tuaku bahwa aku sudah tidak memiliki pekerjaan.

Aku tidak mampu mengatakan kepada ‘emih’ bila anaknya kembali menganggur dan menjadi orang yang ga jelas di Jakarta.

Kamu tahu sendiri, hidup di Jakarta itu tidak mudah. Selain karena tekanannya banyak, tuntutan biaya hidup di sini juga besar.

Tapi ntahlah kala itu muncul keyakinan di dalam diriku bahwa uang Rp 5.5 juta akan membawa berkah dan mencukupi kehidupanku.

Saat itu hampir setiap harinya aku makan tidak lebih dari Rp 10 ribu untuk dua kali makan.

Membeli lauk di malam hari untuk jatah dua kali makan di malam dan sekali di saat sarapan.

Lauk yang bisa aku beli saat itu berupa sop sayur Rp 3 ribu- Rp 5 ribu serta 2 tempe goreng atau bakwan.

Hampir setiap hari lauk paukku adalah tahu atau tempe. Sangat jarang aku memakan ayam, ikan tawar atau bahkan daging sapi saat itu membelinya saja tidak mampu.

Pernah suatu kali saking penginnya makan geprek ayam aku membeli paket ayam dari ojol, membelinya lewat promo dan memakannya untuk tiga kali makan. Saking menghematnya.

Kekurangan materi berupa uang dan pekerjaan membuatku terpuruk. Lemah dan seakaan aku tidak memiliki keahlian apapun yang dapat aku andalkan.

Di saat itu juga aku tertegun bahwa bayaran proyek freelance ternyata tidak dapat menjadi penopang hidup di Jakarta.

Lantaran dari satu proyek freelance mungkin kamu hanya akan diupah senilai Rp 500 ribu saja. Sementara hidup di Jakarta lebih dari itu.

Pada akhirnya, aku berterima kasih kepada Allah Subhanahuwataalla yang telah membersamaiku dalam keadaan ada dan tiada. Terima kasih karena telah mengirim orang-orang baik nan tulus terhadapku.

Mereka adalah keluargaku emih, teteh, A Diandra, A yadi, A Bambang dan sahabat baik yang selalu ada untukku. 

Aku mungkin tidak akan selalu dapat membalas kebaikan kalian. Aku hanya berdoa, agar tangan yang lebih baik dan pemberi pertolongan yakni Allah selalu melimpahi kemudahan dan keberkahan terhadap hidup kalian.

Seperti layaknya aku merasa terberkati oleh rejeki Rp 5.5 juta yang aku pegang kala itu, dan mampu mencukupi kebutuhanku selama kurang lebih hampir empat bulan. Alhamdulillah Wasyukurillah.

Semoga di tahun depan ini, kehidupanku dan kehidupan orang yang membantuku menjadi lebih mudah. Di sampaikan oleh Allah atas semua cita-cita yang diinginkan dan selalu dalam lindungan Allah. Amin..

Akhir kata, I Love myself no matter what. 

Nur Lella Junaedi

30 Desember 2019

Exit mobile version