Site icon Denai Cahaya Malam

Trip Berkeliling di Rangkasbitung Museum Multatuli & Masjid Al Araf

Rangkasbitung Lebak Banten memiliki banyak destinasi yang bisa kamu ulik dalam satu hari atau lebih. Beberapa destinasi tersebut di antaranya:Museum Multatuli, Perpustakaan Saija Adinda, alun-alun Lebak dan Masjid Al-Araf. Tapi sebelum aku melanjutkan seperti apa kesan berkunjung ke sana, aku mau cerita dulu terkait rute transportasi yang bisa kamu pilih.
Sumber: Dokumen Pribadi
Rute Perjalanan
Untuk bisa sampai ke daerah Rangkasbitung kamu yang dari Jakarta, Depok, Bogor atau Bekasi bisa menggunakan commuterline alias KRL. Nanti dari stasiun tinggal transit di Stasiun Tanabang dan pindah ke peron 6 paling ujung untuk naik KRL dengan tujuan Tanabang – Rangkas. Jalur ini biasanya cuma tersedia KRL 1 jam sekali.

Baca juga, Ulasan Paradigma Kafe

Pastikan kalian bisa duduk di dalam KRL karena perjalanan sangat jauh guys. Tanabang-Rangkas itu bisa menghabiskan waktu sekitar 2 jam dan berhenti di 18 stasiun. Kalau aku kemarin dari Cawang- Rangkas hampir 2.5 jam an dengan 24 stasiun. Selain itu aku juga berangkat pagi-pagi banget sekitar jam 7 an udah sampai di Stasiun Tanabang supaya gak kemaleman pulang ke Jakarta. KRL ini biasanya penuh setiap gerbongnya dengan penumpang terutama di hari weekend yang menjadi harbolnas pedagang di daerah buat berbelanja ke Tanabang.
Rute KRL Jabodetabek. Sumber : Google 
Sepanjang perjalanan rute KRL akan melewati perumahan warga daerah Tangerang yang semakin hari makin berkembang. Uniknya cuma dijalur ini, rute KRL berdampingan dengan rute jalan tol seperti layaknya di luar negeri. Bagi kamu yang suka liat-liat ke luar jendela sih seru yah, cuma bagi beberapa orang mungkin bisa jadi membosankan dan bikin ngantuk. Makanya lebih baik siapin headset dan handphone full charge buat membunuh rasa jenuhmu.
Sampai di stasiun Rangkas untuk menuju ke Museum Multatuli kamu bisa jalan kaki (kalau kuat) jaraknya sekitar 1.5 km, naik opang, atau gojek/ gocar. Kebetulan moda transportasi online Grab belum masuk ke Rangkas. Kalau saya sih kemarin naik gocar, dengan bermodal sekitar 6 ribu gopay untuk 2 orang pulang pergi, itu worth it sih..
Oh iya persiapkan juga equipment tambahan selain minuman, cemilan, yakni topi sebab suhu di sana puannass nya poool nendang abis. Kemarin aja suhunya sampe 31 derajat Celcius dan itu terik banget.
Destinasi #1
Museum Multatuli jadi tempat kunjungan saya yang pertama selama di Lebak Banten. Letak museum ini persis dipinggir jalan bersebelahan dengan kantor Bupati Lebak. Di depannya ada alun-alun Lebak yang tidak begitu besar. Dan disamping kananya yang masih satu kompleks ada Perpustakaan Saidja Adinda.
Sumber: Dokumen Pribadi
Museum ini sangat rindang karena dipenuhi dengan pohon-pohon besar. Menjadikan tempat ini hijau dan adem buat berlindung dari terik matahari. Kamu bisa berfoto di area samping museum yang menampilkan suasana pameran perpustakaan Multatuli alias Eduart Douwes Dekker.
Tidak ada biaya yang perlu dikeluarkan untuk berkunjung ke museum ini, meski begitu kamu tetap harus mengisi daftar kunjungan yahh.. memasukan identitas dan kontakmu. Ruangan museum Multatuli terbilang mini, ada beberapa koleksi pamer seperti baju Bupati, koin pada masa Belanda, tombak, replika kapal Belanda dll.
Sumber: Dokumen Pribadi
Isi dari Museum ini kebanyakan menceritakan tentang perlawanan yang dilakukan untuk mengusir penjajah. Dikutip dari sindonews.com, seperti namanya Museum ini diilhami oleh seorang berdarah Belanda bernama Eduart Douwes Dekker yang merupakan asisten Residen Lebak pada Zaman VOC. Ia menetang keputusan VOC untuk aksi kolonialisme dan aksi tanam paksa di bumi Tanah Air. Ia pun sempat melakukan pelaporan ke Belanda memperjuangkan rakyat agar tidak melakukan tanam paksa. Hingga akhirnya ia mengundurkan diri dari posisinya dan pergi ke Belgia.
Sumber: Dokumen Pribadi
Di Belgia ia membawa semua manuskripnya dan mulai menulis Novel yang berjudul Max Havelaar. Dengan menggunakan nama pena Multatuli yang artinya “Banyak yang aku sudah derita.” Novelnya itu booming sampai ke tangan kolonial Belanda yang sempat membuat panas kuping mereka.


Baca juga, Tips nonton 3 Jam dibioskop

Novel itu banyak mengkritik politik kolonialisme yang dilakukan oleh para penjajah terutama Belanda dengan konsep tanam paksa, kerja rodi dan menguasai kekayaan daerah jajahan. Novelnya ini yang kemudian mengilhami beberapa tokoh Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap tindakan kesewenang-wenangan penjajah. Dinovel ini juga terdapat kisah cinta sepasang manusia bernama Saidja dan Adinda yang tidak bisa bersama lantaran arogansi penjajah.
Sumber: Dokumen Pribadi
Dua tokoh ini nampaknya sangat fenomenal sehingga dijadikan nama perpustakaan yang berada di samping bangunan Multatuli. Di museum ini juga kamu bisa tahu banyak tentang era pemerintahan Lebak dari dulu hingga kini.
#Destinasi #2
Puas keliling-keliling museum, saya pun gak lupa mencicipi kuliner khas dikampung-kampung seperti cuangki, rujak bebeuk, es cincau dengan harga yang ekonomis. Para pedagang itu menjajakan dagangan di depan museum, dan beberapa di depan masjid.
Sumber: Dokumen Pribadi
Menjelang Dzuhur akupun bergegas salat dzuhur di Masjid Al Araf yang sepertinya masjid besar di pusat kota Lebak. Bentuk masjidnya masih seperti bangunan zaman dulu yang terdiri dari 2 lantai. Bangunan di bawah biasanya digunakan oleh pengunjung untuk salat  biasa dan untuk bersantai. Sedangkan di lantai ke dua digunakan untuk salat berjamaah plus mimbar di depannya.
Lantaran cuaca yang terik berangsur berubah menjadi mendung, akupun mempercepat pergerakan untuk pulang kembali ke Stasiun Rangkasbitung. Menggunakan aplikasi gocar, aku akhirnya sampai juga di stasiun Rangkas sekitar pukul 14.30 WIB. Dan ketika di stasiun sudah banyak banget penumpang yang sedang antri menunggu KRL menuju ke Tanabang. Dan ternyata, di stasiun Rangkas juga terdapat jalur luar kota lho yakni menuju stasiun Merak Banten.
Thats all. Seee youu on the next trip
Exit mobile version