Site icon Denai Cahaya Malam

May Day! Lo, Keresahan Pekerja Kontrak dan Outsource

Hello semuanya! Balik lagi dengan cerita gw melalui blog ini. Di mana kali ini gw pengin nulis tentang ‘Kerjaan’. Gw yakin tema ini deket dengan kehidupan kalian. Kerjaan jadi salah satu topik hangat manakala lo dibenturkan dengan berbagai kebutuhan yang bakal menyita tenaga lo. 
Source: Google

Berhubung kemarin adalah hari Buruh Internasional, kira-kira sekarang kalian masih buruh gak? Gw pun masih buruh ketik sampai saat ini. Bagi gw even jabatan lo dikantor udah ada ditingkat Manager, GM, VP, lo basicnya masih buruh lantaran lo bekerja di perusahaan orang lain. 


Dan ngomong-ngomong tentang kerjaan, ada hal yang selalu bikin gw risau kalau ngomongin tentang ‘gawe’ alias ‘kerjaan’ yakni keberadaan banyaknya perusahaan yang mengangkat karyawan hanya sampai level pekerja kontrak. Banyak dari mereka yang ‘ogah’ memberikan kepastian sebagai karyawan tetap lantaran beberapa aturan yang mengikat. 

Sumber Gambar: Google.com
Gw pun seperti itu ko genks. Sudah hampir 3 kali gw datang ke kantor utama gw cuma untuk memperpanjang kontrak yang tiap 6 bulan sekali habis. Belum lagi kalau jenis kontrak lo berdasarkan proyek. Proyek selesai, kerjaan lo kelar. 

Sebelum ada berita terkait kontrak gw diperpanjang,  2-1 bulanan sebelum habis gw selalu merasakan ketar-ketir apakah kontrak gw diperpanjang atau dicut. Hal itu yang selalu menghantui gw. 

Ketidakjelasan pekerja kontrak seperti gw juga membuat beberapa fasilitas jaminan kerja juga gak begitu terasa faedahnya. Belum lagi ketidakadilan dalam hal kenaikan gaji.

Siapa sih yang gak pengin nasibnya mujur diterima sebagai pekerja tetap? Dengan fasilitas kantor yang pasti, mulai dari gaji menggiurkan, fasilitas kesehatan, uang pensiun,tunjangan kesehatan mata, tunjangan makan, THR, kenaikan gaji, uang lembur, tunjangan ke luar kota semua orang juga pengin seperti itukan?

Secara upaya lo kerja bukan untuk membuat perusahaan lo besar, tetapi membuat perusahaan orang lain lebih baik bukan? 

Cuma nampaknya di era sekarang ini gw rasa angkatan kerja seusia gw mungkin masih banyak yang berstatus kontrak. Gw sih mulai merasakan ketidaknyamanan dengan status pekerja kontrak ini. Ada beberapa hal yang membuat gw ga nyaman dengan status ini :

#1 Ketidakjelasan masa kerja yang bisa dicut sewaktu-waktu oleh perusahaan tanpa adanya uang pesangon
#2 Ketidakjelasan fasilitas perusahaan 
#3 Ketidakjelasan kenaikan gaji
#4 Tenaga lo cuma diporsir untuk memperkaya kapital, sementara kapitalis tak begitu memerhatikan jaminan terhadap lo
#5 Ketidakjelasan status kerja

Diluaran sana memang lagi hype banget perusahaan start up yang membuka pintu kantornya lebar-lebar menerima talent dari berbagai disiplin ilmu. Cuma berdasarkan pengalaman yang pernah gw alami, bekerja di perusahaan start up jatuhnya tetap sama ko genks. Memprihatinkan!



Menjadi bagian dari perusahaan start up lo harus power full, karena kreativitas dan kerja lo dicurahkan untuk membuat perusahaan berkembang. Lo harus kerja dengan berbagai skill yang lo miliki. Bisa segala jenis pekerjaan dari A-Z tapi dengan gaji hanya sampai di A. 
Well, tantangan lain bagi pekerja diusia gw adalah usia yang tidak muda. Udah jadi hal lumrah sebuah perusahaan mencari para pekerja yang freshgraduated mereka lebih mudah diarahin dan dibimbing. Sementara mereka yang tua dan punya pengalaman biasanya hanya untuk mengisi posisi advance saja.

Belum lagi kalau lo dihadapkan pada kebutuhan yang makin mencekik leher lo, semisal akan menikah, sudah memiliki anak, memiliki keinginan membeli rumah, kendaraan nampaknya harus bekerja ektra keras bila hanya berstatus pekerja kontrak. 

Sumber Gambar: Google.com
Dari tulisan ini gw cuma berharap masa depan lo, gw dan semuanya yang baca tulisan ini akan lebih baik. Terlepas dari jeratan perusahaan yang hanya ingin mencap kita sebagai pekerja kontrak. Meski sebenarnya ada banyak rejeki di luaran sana yang mungkin lo bisa terima dari Yang Di Atas. Gw yakin. Semoga!

Bahkan mungkin lebih baik dari itu, kita bisa lepas dari bagian rantai Buruh. Tapi menjadi orang yang merdeka sebagai buruh (read-Pengusaha). 
Exit mobile version