Site icon Denai Cahaya Malam

Dari Jamur Jadi Bahan Bangunan Sekuat Baja

Jamur beribu-ribu manfaat tak cuma tahu tempe
Di tengah maraknya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat, kita dihadapkan pada kenyataan sumber alam yang tak lagi utuh. Salah satunya adalah keberadaan gunung kapur yang gundul di beberapa wilayah di Indonesia. Sebagaimana diketahui, bila unsur kapur menjadi salah satu bahan penting pembuatan bahan bangunan. Seperti batu bata, batako, semen dan lain-lain.
Bila kita terus tergantung pada kapur maka lambat laun populasi gunung kapur di Tanah Air semakin mengikis. Oleh karena itu, kita perlu beralih pada jenis bahan bangunan yang ramah lingkungan. Salah satu inovasi terbaeek dilakukan oleh lima mahasiswa dari universitas ITB dan UNPAD. Mereka adalah Adi Reza Nugroho, Annisa Wibi, Robbi Zidna Ilman, Arekha Bentang dan Ronaldiaz Hartantyo.

Facebook Mycotech
Para inovator ini menciptakan bahan bangunan pengganti batu bata, kayu dan batako yang berasal dari limbah jamur dan pertanian. Produknya dinamai dengan Mycotech, myco yang artinya jamur dan tech berarti teknologi.

Baca juga, Warung Pinggiran Tak Semewah Minimarket

Ide ini bermula saat melihat limbah jamur dan pertanian yang semakin banyak di daerah sekitar Cisarua, Lembang Jawa Barat. Mereka pun berpikir untuk mendaur ulang limbah tersebut menjadi bahan bangunan. Mereka terinspirasi membuat Mycotech dari proses pembuatan tempe di mana jamur rhizopus mampu mengikat kedelai melalui akar jamur yang disebut Mycelium.
Tak hanya jamur dalam proses pembuatannya, material limbah lain berasal dari tandan kosong sawit, serbuk kayu dan onggokan tapioka. Setiap bahan yang dicampurkan akan menghasilkan warna lempengan Mycotech yang berbeda-beda. Semisal bahan yang banyak mengandung onggok tapioka akan bewarna kuning terang, dan bahan yang terlalu banyak serbuk kayu akan berwarna coklat.
Facebook Mycotech
Semua komposisi bahan tersebut kemudian diikat dengan jamur bernama Mycelium tadi dan dimasukan ke dalam media tanam atau cetak yang dikenal dengan baglog jamur. Baglog inilah yang menjadi limbah dari para petani jamur yang banyak di tumpuk begitu saja. Komposisi bahan limbah itu pun diinkubasi, sterilisasi dan mengalami pengeringan alami hingga 30 hari. Hingga akhirnya bisa menghasilkan lempengan batu bata yang siap digunakan.

Baca juga, List Lagu Barat yang Bikin Unmood

Dilansir dari Mongabay.co.id, Robbi sebagai salah satu pencetus Mycotech ini mengatakan bila produknya lebih kuat dari pada batu bata sekalipun. “Ini sudah diuji coba, bisa menahan tekanan setara 10 mobil. Terlebih material ini pun ringan, fire proof dan teruji tidak menyebabkan lembap,” ucap Robbi.

Keunggulan lainnya dari produk Mycotech adalah ekonomis, ramah lingkungan dan bebas dari resin sintesis. Resin sintesis merupakan perekat pada kayu mebel yang mengandung bahan senyawa berbahaya bagi tubuh. Banyak masyarakat di luar negeri telah sadar akan bahaya senyawa ini dalam pembangunan rumahnya, sehingga banyak dari mereka yang tertarik untuk menggunakan produk Mycotech.

Facebook Mycotech
Sejak resmi dilaunchingkan antara tahun 2013-2014 kini produk Mycotech telah melayani pembelian produk dari mancanegara meliputi Korea Selatan, Singapura, Austin, dan Texas.
Selain itu, Mycotech juga telah banyak mendapatkan penghargaan mulai dari: 2nd Winning Mandiri Young Technopreneur 2014, Top 5 Let’s Go Trade Award Shell LiveWire 2015, DBS Foundation Social Enterprise Grant Award 2016, 1st Global Incubation Network Program, 1st Wienerberger Demoday dan 3rd Winning GIST Global Innovation Through Science and Technology.

Perkembangan Selanjutnya

Kendati pada awalnya biaya yang harus digelontorkan untuk membuat Mycotech berasal dari biaya setiap anggota, tetapi kini Mycotech telah mendapatkan pendanaan riset untuk komersialisasi. Untuk tahun 2016-2018 mereka telah mendapatkan dana senilai Rp 1.3 miliar dari dana riset LPDP kategori ‘advance material’.

Dan pada 2016, dalam sebulan mereka bisa memproduksi sebanyak 20 meter persegi dari target 3000 meter persegi sebulan. Robbi dan timpun telah berhasil membuat beberapa pilot projek di kawasan Jawa Barat dan Bali. Kini Mycotech dijual permeter persegi dikisaran Rp250 ribu- Rp500 ribu tergantung penggunaan dan pemesanan. Dan produknya sudah banyak diminati oleh para arsitektur.
Sumber :
Exit mobile version