Site icon Denai Cahaya Malam

Resensi Novel Critical Eleven Sebelas Menit untuk Selamanya

Mungkin karena itu aku suka bandara. Even tujuannya hanya tiga huruf CGK,SIN, ORD, TTE, HKG, NRT. Tapi miris jika mengingat aku tidak punya tujuan pulang. Tidak punya orang yang menungguku di rumah. Tidak punya ciuman terakhir sebelum pergi ke bandara. I don’t have last call before take off and the first call after landed. (Critival Eleven hal 6)

Setiap pertemuan yang telah direncakan Tuhan akan selalu ada alurnya sendiri, seperti pertemuan Anya seorang manager consultant yang hidup di kota metropolitan. Terbiasa  sendiri dan mandiri setelah kandas hubungan percintaannya beberapa tahun silam. Ketidaksengajaan telah mempertemukan Anya dengan seorang pria bernama Aldebaran Risjad / Ale seorang Petroleum Engineer dalam rute penerbangan Jakarta- Sydney.

Sumber: Dokumen Pribadi

Dan Critical Eleven menjadi penentu awal hubungan mereka. Critical Eleven ini di kenal dalam dunia penerbangan, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat- tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing (Critical Eleven hal 16). Sama seperti akumulasi pertemuan keduanya, tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya saling mengenal lewat percakapan yang ringan dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya (kutipan sinopsis).

Setelah pertemuan itu, selang sebulan kemudian Ale yang kebetulan sedang berada di Jakarta menghubungi Anya untuk pertama kalinya dan mengajak makan siang di Ketoprak Ciragil di kawasan Kebayoran Baru Jakarta. Dan lewat komunikasi yang intens selama seminggu, akhirnya mereka memutuskan untuk berpacaran.

Baca juga, Trip Keliling Rangkasbitung dalam sehari

Awalnya tidak mudah bagi Anya untuk menerima keberadaan Ale sebagai kekasih karena separuh waktu Ale di habiskan di Rig atau offshore (lepas pantai) dengan siklus pekerjaan  lima minggu di Teluk Meksiko dan lima minggu di Jakarta. Setahun setelah berpacaran, Ale memutuskan untuk melamar Anya saat pagi buta dalam perjalanan menuju bandara.

Tak lama kemudian mereka menikah, seperti kebanyakan pasangan lainnya yang tak akan lengkap keberadaan keluarga kecil tanpa adanya tangisan seorang bayi. Selang tiga tahun setelah itu, Anya hamil. Tetapi kehamilan ini lah awal dari ujian pernikahan mereka.

Critical Eleven mampu menceritakan masa-masa kritis yang di alami oleh Anya dan Ale. Ale seorang pria yang sabar mencoba memahami perubahaan psikis istrinya setelah  keguguran. Meski hanya berplot di antara sisi Ale dan Anya tetapi penulis yakni Ika Natassa pintar membuat emosi dari keduanya seakan nyata. Seolah-olah pembaca berada dalam biduk prahara pernikahan Ale dan Anya.

Bagaimana Ale sebagai sosok suami bisa terus menemani, bertanggung jawab bahkan saat istrinya sendiri seakan-akan tidak mengakui posisinya. Ada banyak pasangan di luar sana yang mungkin mengalami kejadian ini, ada beberapa yang bisa bertahan tapi beberapa juga yang memutuskan untuk bercerai.

Dalam kasus ini seorang istri ibarat  biji kopi  sekelas Phanama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, yang merupakan biji kopi terbaik dunia (Critical Elven hal. 56).  Ketika suami memilih seorang istri sama halnya seperti memilih biji kopi  terbaik, bukan salah mereka kalau rasanya kurang enak, dan aroma khasnya tidak keluar. Salah kita (suami) yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukan yang terbaik buat kita (Critical Eleven hal. 56).

Novel ini menyimpan banyak pelajaran bagi pasangan yang akan atau telah menikah.Kadang yang terbayang setelah menikah adalah kebahagian, honeymoon (bulan madu) padahal akan ada banyak masalah-masalah yang tidak terduga bisa terjadi. Sosok seorang wanita yang  penuh drama (inginnya a tetapi sikapnya b) di tunjukkan secara jelas oleh Anya. Beberapa mungkin akan jengkel dengan membaca karakternya di buku ini. Tetapi kehadiran Anya itu sempurna dengan adanya Ale yang bisa membuat semuanya menjadi lebih natural dan tidak perlu di pertanyakan.

Meski novel ini bergenre Metropop tapi penulis menyelipkan kesan islami juga dalam beberapa bagian yang lumayan memberi knowledge (ilmu pengetahuan ) buat pembaca. Di balik kisahnya yang bercerita tentang kehidupan rumah tangga tetapi novel ini tidak setegang apa yang di pikirkan, kadang ada beberapa bagian yang bisa membuat kamu mesem mesem sendiri, there is little sense comedy (ada unsur humornya). Hanya saja mungkin ada banyak monolog yang penulis tulis dalam bahasa Inggris yang jumlah lumayan banyak. Bagi mereka yang bisa mengerti bahasa Inggris secara fasih pasti lebih mudah memahaminya, hanya saja  buat orang-orang yang engga begitu familiar dengan bahasa Inggris rasanya uncomfort (kurang nyaman) juga.

Baca juga, Resensi Film Tampan Tailor & Persuit of Happynes

Oh iya, kabarnya novel ini akan segera di filmkan dan mungkin sekarang sedang proses penggodogan skrip. Di isukan pemeran utamanya Reza Rahardian dan Adinia Wirasti. Baiklah, saya kira ini adalah perpaduan aktor dan aktris terbaik. Yang di harapakan bisa memberikan karya film terbaik juga. Aku berharap di film ini akan banyak kejutan, ringan untuk di tonton serta menghibur.

Akhirnya dengan semua kelemahan dan kelebihan yang sudah saya sebutkan diatas, saya merekomendasikan novel ini untuk di baca dan  membuat saya merasa tertantang untuk menemukan novel dengan genre yang serupa dan lebih menginspiratif.


Informasi Buku 
Critical Eleven
Writter : Ika Natasa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Genre : Metropop

Tahun Terbit : 2015

Exit mobile version