Site icon Denai Cahaya Malam

Kegamangan Jurnalisme Online

Kegamangan Jurnalisme Online

Di era serba canggih ini sebagaimana menurut McLunch (1964) bahwa dunia akan menjadi the big village  yaitu sebuah desa besar yang masyarakatnya saling kenal dan menyapa satu dengan yang lain. Ini terbukti sekarang dengan adanya jaringan yang saling terhubung.

Masyarakat pun kebanyakan  sudah berubah menjadi golongan cybercomunity yaitu komunitas manusia yang telah hidup dalam dua dunia yaitu kehidupan masyarakat nyata dan kehidupan masyarakat maya.

Kita yang berada di Indonesia bisa dengan mudah mengetahui kabar kerabat di Amerika serta dapat melihatnya secara langsung, tentunya dengan kecanggihan internet. Dan itulah yang sedang terjadi dengan pola silaturahmi yang modern ini.

Apalagi jika kita mengaitkannya dengan perkembangan era informasi yang lebih canggih dari itu, seperti sebut saja era jurnalisme online atau jurnalisme daring (dalam jaringan).

Masyarakat di abad ke 21 ini, sudah begitu mencapai level cukup tinggi dalam teknologinya, semuanya dapat mudah tersaji secara online sekaligus instan, yang hanya dengan menggerakkan jari, tinggal “klik” maka informasi yang diperlukan dalam hitungan detik sudah bisa dinikmati.

Begitupun dengan informasi online, jika dulu kita mengenal majalah, Koran, televise, film, radio sebagai media komunikasi massa maka bagaimana dengan Jurnalisme internet yang terkesan up to date dalam penyampaian informasinya? Banyak yang meragukan dengan keabsahan Internet ini, apakah sebagai salah satu dari bagian Komunikasi massa, atau bukan?

Baca Juga: Sejarah Perkembangan Teknologi

Jika dilihat dari Buku Ilmu Komunikasi Teori dan praktek karangan Prof Drs, Onong Uchjana Effendy, M.A bahwa ciri-ciri komunikasi massa itu ada lima yaitu:

  1. Komunikasi massa berlangsung satu arah (one way communication) artinya tidak terdapat arus balik komunikan kepada komunikator ketika komunikasi itu berlangsung. Diperjelas dalam buku Sosiologi Komunikasi karangan Prof Bungin bahwa, jika terjadi interaktif antara komunikan dan komunikator tersebut maka, proses komunikasi (balik) yang disampaikan oleh komunikan kepada komunikator itu sifatnya sangat terbatas, sehingga tetap saja didominasi oleh komunikator.
  2. Komunikasi melembaga (organized communication) artinya komunikator yang menyampaikan informasi dia berada dibawah naungan lembaga yang formal dalam tugas penyampaian informasi kepada masyarakat luas, sehingga dia tidak bergerak sendiri dalam menyampaikan informasinya, melainkan dibantu oleh pihak-pihak yang lain. Contoh, didalam Lembaga surat kabar terdapat Tim Redaksi, dan didalam Radio dan Televisi ada tim kerja berdasarkan Jobnya masing-masing.
  3. Pesan  yang disampaikan bersifat umum, ini terjadi karena ditujukan kepada umum untuk kepentingan umum, Jadi tidak ditujukan kepada perseorangan atau kepada sekelompok tertentu. Yang penting dalam point ini adalah, terkadang masyarakat juga menganggap semua bentuk media massa local baik itu dalam bentuk TV, Koran, Radio dll,juga termasuk dari contoh komunikasi massa, itu kurang tepat. Karena sebenarnya segala informasi yang bersifat lokal tersebut dibatasi oleh wilayah dan cakupan masyarakat yang menerimanya, terkadang masyarakat di wilayah lain tidak mengetahui. Maka dari itu ini disebut bentuk komunikasi nirmassa.
  4. Media komunikasi menimbulkan keserempakan artinya bahwa ketika informasi itu disampaikan maka seluruh elemen masyarkat mengetahui tentang informasi tersebut,lalu bagimana dengan Koran atau penonton film?? Bagi Negara berkembang seperti Indonesia Koran hanya dibaca sekitar 15000 eksemplar saja, dan itu masih kurang untuk mencapai keserempakkan. Tetapi berbeda dengan di Negara maju seperti Amerika jumlah pelanggan Koran bisa mencapai 20.000.000 sampai dengan 30.000.000 eksemplar setiap harinya, maka dari itu mereka dapat dikatakan serempak membaca Koran setiap harinya.
  5. Komunikan bersifat heterogen. Target komunikasi media massa adalah mereka khalayak umum, berbeda dari segi agama, ras, usia, budaya,profesi  dan bahkan tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan komunikator. Sehingga dengan begitu komunikasi dapat diterima oleh semua lapaisan masyarakat yang mejemuk.

Yang menjadi perbedaan pendapat dari para kalangan ilmu komunikasi adalah, “apakah produk informasi online/jurnalisme online merupakan bentuk dari komunikasi massa atau bukan?”

Jika dilihat dari cirri-ciri komunikasi massa diatas, sudah jelas bahwa media seperti Koran, majalah, TV, Radio, film juga termasuk bentuk komunikasi massa karena elemen dari komunikasi massa ada didalamnya, lalu jika dihubungkan dengan produk jurnalisme online yang terkesan cepat itu masih banyak perbedaaan pendapat, yaitu terdapat di hampir semua point:

  • Komunikasi melembaga, produk yang terdapat di internet kebanyakan dikelola oleh individual termasuk hal-hal interested-nya, pertanyaannya lalu bagaimana dengan produk mainstream News Site? seperti detik.com. Karena dari sejak kemunculannya ini sudah menjadi produk jurnalisme online dan pastinya melembaga hanya saja produknya berupa online.
  • Kebanyakan orang membuka internet untuk melakukan proses social network dengan membuka fb, ym, twiter ataupun blog, dan pesan yang mereka sampaikan bersifat pribadi, tidak ada kepentingannya dengan khalayak umum. Lalu bagaimana dengan blog?? Yang terkadang menyajikan berita atau informasi yang umum? Memang benar, tetapi blog dikelola oleh perseorangan, bukan lembaga.
  • Ketika kita menyampaikan informasi lewat online, apakah semua masyarakat tahu tentang ini? Begitupun yang terjadi pada Mainstream News site seperti detik.com, karena tidak semua masyarakat di pedesaan memilki internet.

Jadi kesimpulannya bahwa, masih banyak terdapat perbedaan pendapat mengenai jurnalisme online ini, karena bisa termasuk komunikasi massa atau bahkan tidak, jika dilihat dari ciri-ciri komunikasi massa diatas!

Exit mobile version